Ads
Investigasi

Program Makan Gratis di Rengel Tercoreng: Susu Kedelai Basi Hampir Racuni Siswa

syailendraachmad51
×

Program Makan Gratis di Rengel Tercoreng: Susu Kedelai Basi Hampir Racuni Siswa

Sebarkan artikel ini
IMG 20260301

TUBAN||TRANSISINEWS – Niat mulia untuk memberikan asupan gizi bagi generasi penerus bangsa melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru berujung pada kekhawatiran massal.

Sebuah insiden memprihatinkan terjadi di wilayah Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, saat sejumlah paket makanan yang dibagikan pada Kamis (26/2/2026) diduga kuat tidak layak konsumsi.

​Dapur penyedia berinisial Dapur MBG di wilayah RT 07 RW 07 mendadak menjadi sorotan tajam setelah paket menu yang terdiri dari pisang cokelat (piscok), telur rebus, dan sebotol susu kedelai tersebut ditemukan dalam kondisi rusak.

​Kegembiraan anak-anak sekolah menyambut bantuan makanan seketika sirna saat beberapa botol susu kedelai dibuka. Bukannya rasa gurih dan segar, aroma asam yang menyengat justru keluar dari botol.

Laporan di lapangan menunjukkan cairan susu telah berubah tekstur dan menunjukkan tanda-tanda basi yang sangat jelas.

​”Sangat disayangkan, program sebagus ini dicoreng oleh kurangnya pengawasan mutu. Susu kedelai itu baunya sangat tidak enak. Bagaimana jika sampai tertelan oleh anak-anak kita?” ujar salah satu saksi di lokasi kejadian.

​Kejadian ini memicu kemarahan warga dan orang tua siswa. Mengonsumsi susu kedelai yang telah basi sangat berisiko menyebabkan keracunan makanan serius akibat bakteri patogen, yang dapat mengakibatkan gejala mulai dari kram perut hingga dehidrasi berat.

​Masyarakat kini mempertanyakan standar operasional prosedur (SOP) pengolahan dan penyimpanan di dapur tersebut.

Publik mendesak adanya investigasi mendalam untuk memastikan apakah insiden ini merupakan kelalaian murni atau terdapat unsur ketidaksengajaan dalam pengawasan kualitas bahan baku.

​Kepala Desa Rengel, Mundir, menyayangkan terjadinya insiden tersebut. Ia berharap yayasan atau pihak pengelola lebih berhati-hati dalam menyajikan makanan, mengingat sasaran utamanya adalah anak-anak yang rentan terhadap gangguan kesehatan.

​”Yayasan yang menggunakan tenaga ahli gizi harus lebih sering melakukan pengamatan terhadap makanan dan minuman yang disuguhkan, agar tidak menjadi masalah atau bencana di kemudian hari,” tegas Mundir.

​Warga kini berharap Satgas dari unsur TNI maupun Polri dapat mengusut tuntas kejadian ini untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.

Evaluasi total terhadap penyedia jasa makanan di wilayah Tuban menjadi tuntutan utama guna memastikan program nasional ini benar-benar memberikan manfaat gizi, bukan ancaman kesehatan.(gun/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *