Dengan balutan banyolan atau humor khas Jawa Timuran yang segar serta disisipi pesan-pesan moral kebudayaan yang bernilai tinggi, pertunjukan ludruk modern tersebut berhasil mengocok perut sekaligus mengundang aplaus meriah dari ribuan pasang mata yang hadir.
Ketua DPRD Kabupaten Lamongan, Mukhammad Freddy Wahyudi, dalam orasi budayanya menyampaikan bahwa usia Lamongan yang kini telah menginjak angka 457 tahun merupakan refleksi dari sebuah perjalanan panjang yang sarat akan nilai sejarah, heroisme perjuangan, dan rajutan kebersamaan.
”Momentum Hari Jadi Lamongan ini harus menjadi pengingat kolektif bagi seluruh lapisan masyarakat untuk terus merawat persatuan, melestarikan warisan leluhur, serta bersama-sama bahu-membahu membangun daerah agar semakin maju, sejahtera, dan memiliki daya saing yang kuat di era global,” ujar Mukhammad Freddy Wahyudi.
Menurutnya, denyut pelestarian budaya lokal wajib berjalan beriringan (linier) dengan gerak derap pembangunan fisik dan kemajuan zaman.
Nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang ditinggalkan para pendahulu harus tetap dijaga sebagai fondasi utama dalam mengarsiteki masa depan Lamongan.
Selain berfungsi sebagai wadah rekreasi hiburan rakyat gratis, kegiatan ini secara tidak langsung menjelma menjadi ruang silaturahmi yang mencairkan sekat antara masyarakat dengan para wakil rakyatnya dalam atmosfer yang sangat hangat, santai, dan penuh kebersamaan.
Warga yang hadir tampak larut menikmati seluruh rangkaian acara yang kental dengan nuansa estetika budaya Jawa.
Peringatan HJL ke-457 di lingkungan parlemen Lamongan ini menjadi bukti autentik bahwa variabel kebudayaan masih memegang peranan penting dalam kehidupan bersosial masyarakat.
Melalui kolaborasi apik antara jajaran legislatif, pemerintah daerah, pelaku seni, dan elemen warga, semangat menjaga jati diri daerah ini diyakini akan terus tumbuh subur sebagai modal utama menuju Lamongan yang lebih berdaya saing di masa mendatang. (red)













