Dirinya menambahkan, festival ini diproyeksikan menjadi ruang kolaborasi strategis (ecosystem space) yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders).
Mulai dari perajin tradisional, desainer, pelaku usaha, hingga masyarakat luas, untuk memamerkan kekayaan motif batik khas Bumi Angling Dharma.
“Festival ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi untuk menampilkan kekayaan motif batik, kreativitas para pelaku usaha, serta memperkuat posisi Bojonegoro sebagai daerah yang kaya akan budaya dan inovasi,” imbuhnya.
Melalui penyelenggaraan festival yang tersentralisasi di jantung kota ini, para perajin dan pelaku ekraf diharapkan mampu memanfaatkan momentum secara optimal sebagai sarana promosi produk, ruang transfer ilmu, sekaligus media perluasan jejaring usaha (networking).
Dengan begitu, industri batik lokal dapat terus naik kelas serta memiliki daya saing yang tangguh di tingkat regional maupun nasional.
Pihak Disbudpar Bojonegoro juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh elemen masyarakat dan lintas sektor yang telah bahu-membahu mendukung persiapan event ini.
“Semoga Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026 berjalan lancar, sukses, dan memberikan dampak perekonomian yang positif serta riil bagi kemajuan budaya dan kesejahteraan masyarakat luas,” kuncinya.
Melalui perayaan budaya yang dikemas apik dan modern ini, pelestarian warisan batik daerah diharapkan berjalan selaras dengan penguatan sektor ekonomi kreatif yang berkelanjutan dan berpihak pada kerakyatan. (red/*)













