Ads
InvestigasiOpiniPemerintahan

Pemkab Sampang Dinilai Lalai Dukung Ketahanan Pangan, Saluran Irigasi Kering dan Telantar

syailendraachmad51
×

Pemkab Sampang Dinilai Lalai Dukung Ketahanan Pangan, Saluran Irigasi Kering dan Telantar

Sebarkan artikel ini
IMG 20260807 WA0281

SAMPANG||TRANSISINEWS — Di tengah gencarnya program ketahanan pangan nasional yang terus digaungkan Presiden RI Prabowo Subianto, kondisi infrastruktur pendukung di tingkat bawah justru diduga belum menjadi prioritas.

Salah satu yang disorot adalah saluran irigasi dari Waduk Kelampis, Desa Kramat, Kecamatan Kedungdung, yang melintasi Desa Kara dan wilayah sekitarnya di Kecamatan Torjun, Kabupaten Sampang.

Alih-alih mendapat penanganan serius, saluran irigasi yang selama ini menjadi urat nadi pertanian warga itu justru kembali dibiarkan dalam kondisi memprihatinkan.

Warga menilai, buruknya pengelolaan irigasi telah menempatkan nasib petani pada posisi rawan, terutama saat musim tanam dan masa pertumbuhan komoditas yang sangat bergantung pada ketersediaan air.

Pada Juli lalu rombongan Dinas Pengairan Kabupaten Sampang turun langsung ke lokasi dan menjanjikan adanya normalisasi serta perbaikan distribusi air, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik pahit.

Janji sempat memberi harapan manis itu hanya bertahan sebentar.

Setelah sempat mengalir dalam waktu singkat, aliran air kembali tersendat tanpa kejelasan tindak lanjut.

Pantauan pada Rabu (5/8/2026) menunjukkan saluran irigasi yang seharusnya menopang aktivitas pertanian justru tampak kering dan tidak terurus.

Dasar saluran terlihat retak, dipenuhi rumput liar berubah kuning, sampah plastik, daun kering, hingga.

Kondisi itu memperlihatkan lemahnya perawatan infrastruktur pengairan di wilayah tersebut.

Salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya mengaku khawatir semua tanaman hingga rumput pakan ternak terancam rusak akibat minimnya pasokan air.

Menurutnya, komoditas itu merupakan sumber penghidupan utama masyarakat dan sangat bergantung pada kepastian distribusi air.

“Seharusnya mulai Senin-Kamis giliran air dari Desa Kajar ke arah barat, sasarannya Desa Kara, Tanah Merah, Buker, dan sekitarnya. Tapi kenyataannya saluran kering. Ini jelas melanggar ketentuan sebagaimana mestinya. tegasnya.

Mas Adi, Anggota LSM Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (PEKAT IB) Kabupaten Sampang, yang turun langsung ke lokasi.

Ia menilai persoalan ini tidak bisa lagi dianggap sepele karena menyangkut hajat hidup orang banyak.

Menurutnya, distribusi air yang tidak berjalan sebagaimana mestinya menunjukkan adanya masalah serius dalam tata kelola pengairan.

Ia juga menyoroti lemahnya pemeliharaan saluran irigasi, mulai dari tumbuhan liar, sampah, hingga dugaan kebocoran yang dibiarkan tanpa penanganan.

“Ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah belum memberi perhatian memadai terhadap kebutuhan dasar petani. Kalau dibiarkan terus, dampaknya bukan hanya air tidak mengalir, tapi juga bisa memicu gagal panen,” ujarnya.

Ia mendesak Dinas PU Pengairan Kabupaten Sampang maupun UPT Pengairan setempat segera mengambil langkah konkret, bukan sekadar memberikan janji.

Menurutnya, perawatan saluran irigasi harus dilakukan secara rutin, terukur, dan berkelanjutan, bukan hanya saat masalah sudah membesar.

“Kalau dibiarkan seperti ini, petani akan berpotensi gagal panen. Kami minta pemerintah, Dinas PU Pengairan maupun UPT Pengairan setempat segera bertindak. Perawatan saluran itu sangat penting agar aliran air tetap lancar,” pungkasnya.(tss)