Setelah seluruh ubo rampe (perlengkapan) siap, masyarakat lintas generasi berkumpul melingkar menghantarkan doa bersama yang dipimpin secara khidmat oleh sesepuh adat, Mbah Salam.
Menariknya, usai untaian doa keselamatan ditiupkan, gundukan ketupat dan aneka hidangan tidak hanya disantap bersama oleh warga sebagai wujud kebersamaan (seduluran).
Sebagian dari ketupat dan jadah tersebut justru disuapkan langsung ke mulut hewan-hewan ternak di dalam kandang mereka.
Prosesi menyuapi ternak dengan makanan manusia ini menjadi simbol konkret kedekatan emosional, rasa kasih sayang, serta tanda terima kasih manusia atas jasa-jasa tenaga hewan yang tak terhingga dalam mengolah tanah Bumi Angling Dharma.
Magnet eksotisme budaya samin ini pun tak pelak mengundang perhatian nasional.
Agenda Gumbregan tahun ini turut dihadiri dan disaksikan langsung oleh sejumlah tamu penting dari berbagai daerah.
Di antaranya tampak hadir pemerhati budaya Samin asal Yogyakarta, tim Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro, serta budayawan kawakan sekaligus pengamat komunitas Samin, Adi Sutarto.
Melalui keajegan tradisi Gumbregan, masyarakat Sedulur Sikep Dusun Jepang sukses membuktikan bahwa di tengah gempuran arus modernisasi dan digitalisasi yang kian liar, nilai-nilai luhur komunal—mulai dari gotong royong, kesetaraan, rasa syukur, hingga harmoni segi tiga antara manusia, alam, dan hewan—tetap tegak berdiri sebagai pedoman hidup yang relevan dan lestari. (*/red)













