Seluruh peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk kemudian ditantang dalam sebuah mini-competition: menciptakan satu konsep tampilan streetwear siap pakai menggunakan Wastra Bojonegoro dengan durasi waktu hanya lima menit.
Hasil kreasi kilat yang menuntut kerja tim dan insting fesyen tersebut langsung dipresentasikan di hadapan peserta lain.
Ketatnya waktu justru memicu atmosfer belajar yang seru, kompetitif, sekaligus menyenangkan bagi para kreator muda Bumi Angling Dharma.
Viky Anasta menegaskan bahwa industri fesyen bukan sekadar ajang ikut-ikutan tren global yang bergerak cepat, melainkan instrumen kuat untuk memperkokoh identitas budaya bangsa.
”Fashion bukan hanya tentang mengikuti tren, tetapi juga tentang identitas diri dan bangsa. Melalui styling dan draping sederhana, kita bisa membawa Wastra Bojonegoro menjadi bagian dari gaya hidup modern tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur budayanya,” ungkap Esa Dega retoris.
Agenda ini menjadi salah satu magnet utama pada hari kedua BWBF 2026 yang mengusung visi besar ‘Wastrane Bojonegoro Membumi lan Ngamboro ing Bawono’ (Pakaian Khas Bojonegoro Membumi dan Mendunia).
Gelaran festival ini terbukti tidak hanya berfungsi sebagai tameng pelestarian budaya ragawi, tetapi juga menjadi inkubator yang efektif dalam memicu lahirnya inovasi segar di sektor ekonomi kreatif, khususnya subsektor fashion.
Melalui workshop ini, lahirlah sebuah paradigma baru di kalangan milenial dan Gen Z Bojonegoro: bahwa kain tradisional tidak hanya untuk disimpan rapi di dalam lemari, melainkan untuk dikenakan dengan bangga, dirayakan keberadaannya, dan dihidupkan dalam aktivitas keseharian. (*/red)













