Melalui program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri), seorang perempuan pelaku budidaya di Purwosari sukses membuktikan kapasitasnya mengelola bisnis secara profesional.
Meski kerap dihantam fluktuasi harga pakan ternak yang tidak stabil serta ketatnya persaingan pasar, ia tetap konsisten menjaga standardisasi dan kualitas produksi telurnya.
Ketekunan ini membuahkan hasil nyata, sekaligus menegaskan bahwa perempuan memiliki andil taktis dalam menyokong rantai pasok ketahanan pangan daerah.
Di antara dinamika usaha tersebut, Purwosari juga menyimpan lembar cerita kemanusiaan yang amat menyentuh hati.
Seorang ibu penyandang disabilitas netra menolak menyerah pada takdir saat sang suami divonis menderita penyakit stroke.
Dengan keterbatasan penglihatan, ibu ini berdiri kokoh menjadi kepala keluarga tunggal.
Ia merawat suaminya yang sakit, mengurus rumah tangga, sekaligus memeras keringat demi memastikan anak-anaknya tetap mendapatkan akses pendidikan yang layak untuk memutus mata rantai kemiskinan.
Keteguhan hatinya menjadi teladan hidup bagi warga sekitarnya bahwa kekuatan sejati manusia tidak diukur dari kesempurnaan fisik, melainkan dari ketulusan dan ketabahan jiwa.
Kisah kolektif para perempuan di Kecamatan Purwosari ini menjadi indikator penting bahwa keberhasilan pembangunan Bojonegoro tidak sekadar dihitung dari angka-angka pertumbuhan ekonomi atau megahnya fisik bangunan.
Pembangunan yang hakiki berakar dari manusia-manusia tangguh yang mandiri, produktif, dan berdedikasi menjaga asa demi masa depan daerah yang lebih sejahtera.(red/pim)













