BOJONEGORO||TRANSISINEWS– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro terus bergerak taktis dalam memperkuat benteng ketahanan pangan masyarakat serta menekan angka kerentanan gizi.
Langkah konkret tersebut diwujudkan melalui agenda Intervensi Kerentanan Pangan Tahun 2026 yang diinisiasi oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro.
Kegiatan strategis ini dikolaborasikan secara apik dengan Gerakan Pangan Murah (GPM) serta layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dipusatkan di Balai Desa Clebung, Kecamatan Bubulan, Kamis (18/6/2026).
Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, dalam arahannya menegaskan bahwa sektor pertanian dan kesehatan merupakan pilar arus utama (mainstream) pembangunan daerah Bumi Angling Dharma.
Pemkab Bojonegoro berkomitmen penuh mengurai benang kusut problem klasik petani dari hulu hingga hilir—mulai dari ketersediaan air irigasi, distribusi pupuk, penyediaan bibit unggul, hingga menjaga stabilitas harga jual pasca-panen demi mendongkrak kesejahteraan petani.
Perhatian spartan pemkab di sektor agro ini pun berbuah manis.
Nurul membeberkan lompatan besar produksi padi Bojonegoro yang sebelumnya berada di angka 710 ribu ton per tahun, kini melonjak tajam menjadi 864 ribu ton, atau mengalami surplus penambahan sekitar 154 ribu ton.
“Melalui capaian signifikan ini, Kabupaten Bojonegoro sukses naik peringkat, dari posisi ketiga kini bertengger di peringkat kedua sebagai daerah penghasil padi terbesar di Provinsi Jawa Timur,” ujar Wabup Nurul Azizah disambut aplaus warga.
Di samping memacu produktivitas makro, Wabup Nurul menambahkan bahwa program intervensi ini merupakan wujud kehadiran dan kepedulian negara dalam menyangga pemenuhan gizi masyarakat, khususnya kelompok balita yang bermukim di wilayah berkategori rentan pangan.













