Eksperimen narasi harus melompat dari sekadar istilah sains yang kaku menjadi kisah yang hidup dan kontekstual.
”Ketiga unsur utama, yakni geologi, hayati, dan kebudayaan lokal harus saling terhubung secara organik. Jangan terpisah-pisah. Jalinan cerita itu penting agar memberikan pemahaman yang utuh mengenai nilai universal luar biasa yang dimiliki Geopark Bojonegoro,” ulas Prof. Hanang.
Usai membedah data di PIG, rombongan bergerak cepat menyisir rute penilaian internasional.
Lokasi pertama yang dituju adalah Biosite Kebun Belimbing di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke situs sejarah Museum 13 dan Rumah Singgah Wonocolo.
Sebagai puncak simulasi, tim meninjau langsung Kawasan “Teksas” Wonocolo serta Formasi Wonocolo Hargomulyo.
Kawasan ini merupakan situs tambang minyak bumi tradisional aktif sekaligus geosite unggulan yang merekam jejak panjang sejarah industri perminyakan dunia di tanah Jawa.
Di setiap titik pemberhentian, tim pengelola memperagakan simulasi pemanduan (guide) layaknya proses asesmen asli UNESCO sedang berlangsung.
Langkah taktis ini menjadi sarana uji mental dan kapasitas bagi para pemandu lokal untuk menyampaikan nilai-nilai penting situs secara artikulatif, runtut, dan mudah dicerna.
Kegiatan pra-validasi ini menjadi parameter penting untuk mengukur kesiapan infrastruktur dan SDM Bojonegoro sebelum tim penilai dari UNESCO mendarat secara resmi.
Berbagai masukan tajam dari KNGI dan BRIN diharapkan dapat langsung dieksekusi demi memperkuat kualitas interpretasi, manajemen tata kelola situs, serta narasi besar (grand design) Geopark Bojonegoro yang dengan bangga mengangkat keunikan warisan geologi berbasis cekungan migas purba yang berpadu harmonis dengan kearifan lokal masyarakatnya. (*/red)













