“Kita harus menghitung kebutuhan material secara detail melalui sistem Bill of Material (BOM). Perhitungan ini sangat krusial karena kesalahan sedikit saja dalam estimasi dapat menyebabkan pembengkakan biaya (cost overrun) serta keterlambatan pengiriman proyek,” urai Sutarmin.
Lebih lanjut, praktisi senior ini menjabarkan secara teknis alur produksi di dalam pabrik baja.
Proses tersebut dimulai dari pemotongan plat baja yang mengacu pada rencana pemotongan (cutting plan), dilanjutkan dengan pembentukan material melalui proses roll, pengelasan (welding), hingga pembuatan komponen-komponen pendukung seperti flange.
Guna menekan biaya operasional, Sutarmin menekankan bahwa setiap tahapan produksi wajib memiliki perencanaan yang matang agar penggunaan material mentah menjadi efisien dan mampu meminimalkan sisa limbah produksi (waste).
“Keberhasilan suatu proyek manufaktur tidak hanya ditentukan oleh kapasitas kemampuan produksi semata. Melainkan juga sangat bergantung pada ketelitian dalam perencanaan, pengelolaan material, pengendalian biaya, manajemen waktu kerja, serta ketajaman dalam mengambil keputusan yang tepat demi meningkatkan efisiensi dan profitabilitas perusahaan,” pungkasnya di akhir sesi kuliah praktisi.(red/*)













