Ads
Pemerintahan

Buka BWBF 2026, Arumi Bachsin dan Setyo Wahono Dorong Batik Bojonegoro Mendunia

syailendraachmad51
×

Buka BWBF 2026, Arumi Bachsin dan Setyo Wahono Dorong Batik Bojonegoro Mendunia

Sebarkan artikel ini
DQ5UG112kdHm1VZo

BOJONEGORO||TRANSISINEWS– Penampilan spektakuler mulai dari deretan bintang tamu papan atas, atraksi barongsai, hingga seni tari budaya kolosal menghiasi malam Opening Ceremony Bojonegoro Wastra Batik Festival (BWBF) ke-3, Rabu malam (17/6/2026).

Ribuan pasang mata memadati Alun-Alun Bojonegoro untuk menyaksikan komitmen daerah dalam mentransformasikan batik dari sekadar pakaian tradisional menjadi entitas pop kultur mode (fashion) yang digandrungi kawula muda.

​Pada gelaran tahun ketiga ini, BWBF mengusung tema filosofis ‘Wastrane Bojonegoro Membumi lan Ngamboro ing Bawono’, yang memiliki arti mendalam: ‘Pakaian Khas Bojonegoro Membumi dan Menyebar ke Seluruh Dunia’.

Perhelatan akbar ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari penuh, mulai Rabu (17/6/2026) hingga Sabtu (20/6/2026).

​Hadir mewakili Gubernur Jawa Timur, Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Timur, Arumi Bachsin, menyampaikan bahwa BWBF merupakan wujud nyata bagaimana pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi kreatif (ekraf) serta pengembangan pariwisata daerah.

Ia menggarisbawahi bahwa batik tulis menyimpan nilai ekonomi tinggi karena diproduksi lewat proses yang autentik.

​”Seperti yang saya pakai, yang Pak Bupati pakai. Bukan hanya bagus motifnya, karena di setiap motif pasti ada sejarah dan cerita. Setiap lembar kain yang dibuat perajin berbeda dari yang dibuat oleh mesin. Di sana ada keringat, doa, dan kreativitas perajin,” tutur Arumi Bachsin penuh apresiasi.

​Lebih lanjut, Arumi menjelaskan bahwa industri ekraf kini menjadi salah satu motor pertumbuhan utama di Jawa Timur, di mana subsektor fashion tampil sebagai lini unggulan.

Tantangan ke depan adalah konsistensi dalam melahirkan produk kreatif lokal yang kompetitif di pasar internasional, terlebih batik telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda milik Indonesia.

​Gayung bersambut, Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, dalam sambutannya mengucapkan selamat datang kepada para tamu lintas daerah yang hadir memeriahkan BWBF 2026.

Bupati menegaskan bahwa dalam goresan malam setiap motif batik Bojonegoro tersimpan nilai kearifan lokal, sejarah, filosofi, serta identitas kuat daerah.

​”Kita ingin kebudayaan tidak hanya menjadi sejarah yang dikagumi di masa lalu, tetapi bertransformasi menjadi pondasi ekonomi yang mampu memberikan kesejahteraan konkret dan membanggakan Kabupaten Bojonegoro,” tegas Setyo Wahono.

​Guna memastikan keberlanjutan ekosistem tersebut, festival tahun ini tidak hanya menyajikan pameran visual, melainkan juga dibalut berbagai rangkaian acara edukatif dan kompetitif.

Di antaranya pameran wastra dan kriya, peluncuran kurikulum pendidikan dan pelatihan batik tingkat SD dan SMP, talkshow strategi pemasaran digital UMKM, workshop praktis, lomba fashion show batik kreatif, hingga pertunjukan seni budaya berkala.

​”Rangkaian agenda ini untuk memastikan ekosistem batik di Jawa Timur, khususnya Bojonegoro, terus bergerak dinamis dan adaptif sesuai perkembangan zaman. Ini menjadi wadah kolaborasi, memperluas jejaring pelaku ekraf, sekaligus memajukan pariwisata berbasis budaya,” urai Bupati.

​Momentum BWBF ke-3 ini juga menjadi lompatan digital bagi pelaku usaha lokal lewat peluncuran marketplace ekonomi kreatif resmi milik Bojonegoro yang diberi nama ‘Dodolan Ekraf’.

Platform digital ini didesain khusus untuk menghubungkan para pengrajin dan pelaku ekraf langsung dengan pasar global yang lebih luas, efektif, dan kompetitif.

​Di samping itu, Bupati Wahono juga membeberkan agenda strategis internasional yang tengah dihadapi daerahnya.

Dalam waktu dekat, Kabupaten Bojonegoro akan menjalani proses asesmen dan penilaian lapangan terkait kelayakan UNESCO Global Geoparks (UGG_p_) yang berlangsung mulai Kamis hingga Jumat (18–19 Juni 2026).

​Sinergi antara festival budaya bertaraf nasional dan penilaian warisan geologi dunia ini diharapkan mampu melesatkan nama Bojonegoro di panggung dunia, sekaligus membuktikan bahwa ekonomi kreatif dan kearifan lokal Bumi Angling Dharma telah siap melompat tinggi (ngamboro ing bawono). (red/*)