Ads
RagamRegional

Unik dan Sakral, Intip Tradisi Gumbregan Sedulur Sikep Margomulyo

syailendraachmad51
×

Unik dan Sakral, Intip Tradisi Gumbregan Sedulur Sikep Margomulyo

Sebarkan artikel ini
IMG 20260619 WA0103

BOJONEGORO||TRANSISINEWS – Masyarakat adat Sedulur Sikep di Dusun Jepang, Desa/Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, kembali menggebrak kesakralan bulan Suro dalam penanggalan Jawa dengan menggelar tradisi tahunan Gumbregan, Jumat (19/6/2026).

Ritual komunal ini merupakan perwujudan esensi rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan kesehatan, kesejahteraan, serta keselamatan hewan ternak yang menjadi pilar vital urat nadi kehidupan mereka.

​Bagi komunitas samin alias Sedulur Sikep, Gumbregan melompat jauh dari sekadar seremonial adat musiman.

Tradisi adiluhung yang diwariskan secara turun-temurun ini mengunci nilai luhur berupa penghormatan kosmis terhadap hewan piaraan—seperti sapi, kerbau, dan kambing—yang setia berkeringat membantu aktivitas pertanian di sawah serta menopang ekonomi domestik sehari-hari.

​Penerus ajaran Samin Surosentiko, Bambang Sutrisno, memaparkan filosofi luhur di balik ritus ini. Baginya, Gumbregan adalah momentum jeda untuk berterima kasih kepada Sang Pencipta sekaligus memanusiakan hewan ternak yang telah berjasa besar bagi peradaban manusia.

​“Gumbregan adalah ungkapan rasa syukur kepada Gusti karena hewan-hewan ternak ini telah tulus membantu pekerjaan kami sehari-hari. Melalui tradisi ini, kami menanamkan ajaran kasih sayang dan penghormatan setinggi-tingginya terhadap seluruh makhluk hidup yang ikut menyangga kehidupan manusia,” urai Bambang Sutrisno lugas.

​Lebih strategis lagi, Bambang menambahkan bahwa pelaksanaan Gumbregan edisi tahun 2026 ini sengaja dikemas lebih masif sebagai bagian dari langkah taktis penguatan dokumen usulan agar tradisi adat ini diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) nasional.

​Alur ritual diawali dengan aksi gotong royong (sambatan) warga sejak pagi buta untuk meracik berbagai hidangan tradisional wajib, terutama ketupat (kupat) dan jadah ketan.

Setelah seluruh ubo rampe (perlengkapan) siap, masyarakat lintas generasi berkumpul melingkar menghantarkan doa bersama yang dipimpin secara khidmat oleh sesepuh adat, Mbah Salam.

​Menariknya, usai untaian doa keselamatan ditiupkan, gundukan ketupat dan aneka hidangan tidak hanya disantap bersama oleh warga sebagai wujud kebersamaan (seduluran).

Sebagian dari ketupat dan jadah tersebut justru disuapkan langsung ke mulut hewan-hewan ternak di dalam kandang mereka.

​Prosesi menyuapi ternak dengan makanan manusia ini menjadi simbol konkret kedekatan emosional, rasa kasih sayang, serta tanda terima kasih manusia atas jasa-jasa tenaga hewan yang tak terhingga dalam mengolah tanah Bumi Angling Dharma.

​Magnet eksotisme budaya samin ini pun tak pelak mengundang perhatian nasional.

Agenda Gumbregan tahun ini turut dihadiri dan disaksikan langsung oleh sejumlah tamu penting dari berbagai daerah.

​Di antaranya tampak hadir pemerhati budaya Samin asal Yogyakarta, tim Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro, serta budayawan kawakan sekaligus pengamat komunitas Samin, Adi Sutarto.

​Melalui keajegan tradisi Gumbregan, masyarakat Sedulur Sikep Dusun Jepang sukses membuktikan bahwa di tengah gempuran arus modernisasi dan digitalisasi yang kian liar, nilai-nilai luhur komunal—mulai dari gotong royong, kesetaraan, rasa syukur, hingga harmoni segi tiga antara manusia, alam, dan hewan—tetap tegak berdiri sebagai pedoman hidup yang relevan dan lestari. (*/red)