Ads
Pemerintahan

​Lifting Migas Lemas, Sektor Pertanian Jadi Penyelamat Ekonomi Bojonegoro di Awal 2026

syailendraachmad51
×

​Lifting Migas Lemas, Sektor Pertanian Jadi Penyelamat Ekonomi Bojonegoro di Awal 2026

Sebarkan artikel ini
1000324589 copy 1280x853

​Merespons capaian tersebut, Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, menilai pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini menjadi sinyal positif bagi ketahanan ekonomi masyarakat.

Berbagai intervensi program pembangunan daerah, penguatan sektor tani, dan pemberdayaan UMKM dinilai mulai menunjukkan dampak riil di lapangan.

​“Kalau melihat perjalanan beberapa tahun terakhir, Bojonegoro pernah mengalami kontraksi ekonomi yang cukup dalam pada beberapa triwulan. Namun pada Triwulan I 2026 ekonomi Bojonegoro mampu tumbuh 2,52 persen secara q-to-q. Ini menunjukkan ekonomi masyarakat tetap bergerak dan berbagai program pembangunan daerah mulai memberikan dampak positif,” papar Nurul Azizah.

​Wabup Nurul juga menambahkan bahwa dari segi pemeringkatan ekonomi regional, posisi Bojonegoro di tingkat provinsi masih tergolong sangat kokoh.

“Dan bila dibandingkan kabupaten lain, Bojonegoro masih bagus, se-Jatim nomor 9 dalam memberi kontribusi pertumbuhan ekonomi nonmigas,” imbuhnya, merujuk pada porsi kontribusi Bojonegoro yang menyumbang 3,20 persen terhadap total perekonomian Jawa Timur.

​Meskipun menunjukkan tren positif di tingkat regional, kinerja pertumbuhan tahunan Bojonegoro yang berada di angka 0,02 persen terpantau masih tertinggal jika dikomparasikan dengan daerah lain di kawasan Gerbangkertosusila Plus (G+), seperti Gresik yang tumbuh 7,28 persen dan Tuban di angka 6,88 persen.

​Ditinjau dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penyokong terbesar dengan andil 46,22 persen, disusul konsumsi pemerintah yang tumbuh 20,45 persen berkat dorongan belanja pegawai serta stimulus program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).

Fenomena fluktuasi ini menjadi alarm penting bagi Pemkab Bojonegoro untuk terus mempercepat diversifikasi ekonomi ke sektor nonmigas agar struktur fiskal daerah tidak rentan goyah.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *