Para penjual tempe di wilayah Kedungadem ini kini berada di persimpangan sulit. Mereka sadar bahwa menyesuaikan ukuran adalah satu-satunya cara cepat untuk menyiasati lonjakan harga kedelai.
Namun, mereka juga mengerti bahwa langkah ini berpotensi menggerus kepercayaan pelanggan yang selama ini menjadi penopang usaha mereka.
“Sebenarnya kami tidak ingin mengambil jalan ini. Kami berharap ada solusi yang lebih baik dari pemerintah atau pihak terkait. Entah itu subsidi kedelai, atau kebijakan impor yang bisa menekan harga,” harap Agus, mewakili suara para penjual tempe lainnya.
Kenaikan harga kedelai bukan hanya persoalan bagi produsen tempe di Kedungadem, tetapi juga sinyal peringatan bagi banyak pelaku usaha pangan skala kecil di seluruh Indonesia.
Jika tidak ada langkah nyata dalam waktu dekat, bisa jadi tempe makanan rakyat yang selama ini terjangkau dan bergizi akan semakin sulit dinikmati oleh masyarakat.
Warga dan pelaku usaha pun kini menanti, apakah akan ada kebijakan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang bisa membawa angin segar bagi industri tempe, atau justru mereka harus terus berjuang sendiri dalam menghadapi gelombang harga yang tak menentu.(sy)













