Sistem distribusi yang tidak efisien ini menyebabkan biaya produksi pupuk meningkat, sehingga harga jualnya juga menjadi mahal.
Keterbatasan akses terhadap pupuk yang terjangkau menyebabkan petani harus mencari alternatif lain yang lebih mahal, sehingga meningkatkan biaya produksi mereka. Hal ini tentunya berdampak pada kesejahteraan petani dan produksi pertanian di Kabupaten Bojonegoro.
“Pemerintah perlu segera mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi permasalahan ini, sehingga petani dapat merasa diringankan bebannya dan produksi pertanian dapat meningkat,” harap Ahmad Suyono.
Dengan demikian, harapan untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bagi petani di Bojonegoro masih jauh dari kenyataan. Pemerintah diharapkan dapat memberikan perhatian lebih terhadap permasalahan ini dan mencari solusi yang tepat untuk meningkatkan kesejahteraan petani.(sy)













