“Modal kami besar, tapi harga jual tidak pernah sesuai harapan. Untungnya tipis sekali, bahkan kadang rugi kalau musim hujan berlebihan,” keluhnya.
Sutiyah juga menjelaskan bahwa penjualan melalui tengkulak menjadi opsi paling praktis, meskipun harga yang ditawarkan lebih rendah dibandingkan harga pasar.
“Tengkulak itu datang langsung ke desa, jadi tidak perlu biaya tambahan untuk transportasi. Tapi ya, harganya di bawah standar,” katanya.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pendapatan petani semakin tergerus, terutama di tengah situasi ekonomi yang serba sulit.(red)













