Tema tahun ini punya arti tanggung jawab perempuan bertambah lagi, harus berdaya dengan cara belajar. Komunikasi yang baik juga harus diterapkan di era digitalisasi ini, karena perempuan dituntut menyesuaikan diri sesuai keadaan.
“Di era moderen ini kita harus menyesuaikan diri, terlebih digitalisasi semakin berkembang pesat,” terangnya.
Kepala DP3AKB Bojonegoro Heru Sugiharto mrnambahkan kegiatan ini bertujuan mengenang dan menyegarkan kembali ingatan akan pentingnya pemahaman dan penghayatan serta arti perjuangan dan kebangkitan kaum perempuan. Ini sebagai bagian tak terpisahkan dari kebangkitan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Selain itu, juga bertujuan memotivasi lebih banyak perempuan untuk menjadi relawan dan agen perubahan di komunitas mereka. Serta menghargai dan merayakan peran perempuan dalam masyarakat yang peduli terhadap isu-isu sosial.
“Juga meningkatkan peran perempuan Indonesia untuk lebih aktif terlibat dalam tindakan kemanusiaan dan kepedulian terhadap lingkungan. Kegiatan ini juga untuk memotivasi perempuan untuk aktif terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan kepemimpinan,” ungkapnya.
Selain itu juga, momen Hari Ibu ini juga untuk menghargai dan merayakan pencapaian perempuan Indonesia di berbagai bidang, mendorong kesetaraan gender dan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan, memperkuat solidaritas di antara perempuan dan antargenerasi serta mendorong kerjasama dalam mendukung isu-isu kemanusiaan.
“Juga menginspirasi perempuan untuk mengambil peran proaktif dalam memajukan masyarakat dan negara,” tuturnya.
Dalam sarasehan hadir Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc, MA, Dosen Universitas Sunan Giri Bojonegoro. Peserta sarasehan berjumlah 190 orang terdiri dari unsur pemerintahan dan lembaga masyarakat.(Sy/red)













