oleh

Menpan RB Minta Pers Untuk Tidak Dimusuhi

TransisiNews.com- Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Tjahjo Kumolo menghadiri acara Hari Pers Nasional (HPN) 2020 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel). Tjahjo berbicara perbedaan dunia jurnalistik zaman Orde Baru dan saat ini.

Tjahjo mengatakan dunia jurnalistik saat ini sudah berkembang pesat dibandingkan dengan zaman Orde Baru. Menurutnya, hal tersebut menjadi sebuah tantangan bersama.

“Hanya, bedanya, PWI zaman Orde Baru sangat luar biasa, orang bikin media saja sulit, orang bikin kartu media saja sulit sekali. Ada lipsusnya segala macam,” kata Tjahjo dalam sambutannya di Hotel Aria Barito, Jalan MT Haryono, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jumat (7/2/2020).

Tjahjo menyebut, dengan perkembangan teknologi dan keterbukaan informasi yang luas, penggiat dunia jurnalistik menjadi bebas untuk berekspresi dengan mendirikan media masing-masing. Menurutnya, media-media tersebut muncul dengan berbagai tujuan.

“Sekarang gimana? Sekarang orang bisa setiap saat bikin tabloid, bikin media, orang yang tujuannya untuk menghajar pejabat, untuk menghajar seorang. Bikin kartu wartawan 10 pun bisa,” katanya.

“Dulu wartawan kalau mau tanya pejabat tanya langsung apa masalah ini. Sekarang ‘Bapak ngomong saja, Pak, saya tulis’. ‘Bapak kirim WA saja, Pak’, ini juga tantangan,” lanjut dia.

Tjahjo menuturkan dahulu masyarakat, ketika bangun tidur, minum kopi atau teh terasa belum nikmat jika belum baca koran. Saat ini, kata dia, ratusan ribu media online mudah diakses oleh masyarakat.

“Dulu bangun tidur minum kopi, minum teh, kalau belum baca koran daerah, itu nggak nikmat. Sekarang (media) online sudah ratusan ribu, apalagi jumlah penduduk kita 264 juta, tapi HP yang beredar di negara kita sudah hampir 300 juta. SIM card tiga kali lipat, mulai pembantu, sopir, pejabat punya HP 2-3. Saya kira itu perkembangan yang harus selalu kita cermati,” katanya.

Lebih jauh Tjahjo menceritakan, selama berkiprah di dunia politik, dia tak bisa lepas dari peran media. Menurutnya, media memberitakan dan menjadikan dirinya pejabat publik hingga saat ini.

“Saya bisa seperti ini juga karena pers. Saya sudah 37 tahun berkecimpung dalam dunia politik, jadi pejabat negara sudah 37 tahun, jadi anggota DPR 30 tahun, jadi menteri 5 tahun, juga karena teman-teman pers. Tanpa diberitakan oleh teman pers, tanpa dibantu teman-teman pers… saya sangat dibantu. Kehidupan saya selama 37 selalu ketemu dengan teman-teman pers,” katanya.

Tjahjo menyebut antara media dan pejabat publik sangat berkaitan erat. Menurut Tjahjo, keduanya saling membutuhkan sebagai sumber informasi pemberitaan bagi masyarakat.

“Forum seperti ini, pemerintah, mulai presiden sampai kepala desa, termasuk jajaran TNI-Polri, tokoh-tokoh masyarakat, perguruan tinggi, juga memerlukan pers. Termasuk pers juga memerlukan kita. Bahkan pejabat publik, ASN khususnya, dalam lingkup KemenPAN-RB harus 24 jam lewat humasnya harus siap untuk ditanya,” pungkasnya. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed