Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Berita » Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo: Tidak Melihat Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, Kami Sedang Pantau Dengan Seksama

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo: Tidak Melihat Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, Kami Sedang Pantau Dengan Seksama

(26 Views) April 30, 2020 10:40 am | Published by | No comment

TransisiNews.com– Para pejabat AS “belum melihat” pemimpin Korea Utara Kim Jong-un akhir-akhir ini dan sedang ‘memantau dengan saksama’ status kesehatannya, kata Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo.

Dia juga menyatakan keprihatinan bahwa negara yang tertutup itu bisa terkena dampak wabah virus corona atau kelaparan.

Kim, 36, terakhir muncul di media pemerintah pada 12 April. Hal itu memicu spekulasi bahwa dia sakit parah.

Namun para pejabat di Korea Selatan mengatakan laporan itu tidak benar.

Siapakah calon kuat pengganti pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un?
Mengapa muncul spekulasi pemimpin Korea Utara Kim Jong-un sakit keras?
Kim Jong-un, ‘raja bintang pagi’ yang terpilih menjadi pemimpin Korea Utara
Negara mana saja yang belum melaporkan kasus Covid-19?

Ada juga pendapat bahwa “pemimpin tertinggi” Korea Utara itu mungkin tinggal di resor tepi laut di Wonsan untuk melindungi dirinya dari kemungkinan terpapar virus corona.

Negara itu menutup perbatasannya pada akhir Januari karena pandemi Covid-19.

Apa yang dikatakan Mike Pompeo?
Dalam wawancara dengan Fox News , Pompeo mengatakan: “Kami belum melihatnya (Kim Jong-un) . Kami tidak memiliki informasi untuk dilaporkan hari ini, kami memperhatikannya dengan saksama.

“Ada juga risiko nyata bahwa akan ada kelaparan, kekurangan makanan, di Korea Utara,” tambahnya.

“Kami memperhatikan setiap hal itu dengan cermat, karena mereka memiliki dampak nyata pada misi kami, yaitu denuklirisasi Korea Utara,” kata menteri luar negeri itu.

Pada 1990-an, kelaparan yang parah diyakini telah menewaskan ratusan ribu warga Korea Utara.

Pada Senin (27/04), Presiden Donald Trump mengatakan ia memiliki “ide yang sangat bagus” tentang kondisi Kim, tetapi menambahkan bahwa “Saya tidak dapat membicarakannya”.

“Saya hanya berharap dia sehat,” tambahnya.

Trump telah bertemu Kim tiga kali sejak 2018 – tetapi pembicaraan denuklirisasi terhenti dalam beberapa bulan terakhir.

Kapan spekulasi mulai?
Kim Jong-un baru-baru ini tidak tampil dalam perayaan ulang tahun kakeknya—pendiri Korea Utara, Kim Il-sung—pada 15 April. Ini adalah salah satu acara terbesar tahun ini yang menandai kelahiran sang pendiri negara.

Kim Jong-un tidak pernah melewatkan acara ini – dan tampaknya sangat tidak mungkin bahwa dia memilih untuk tidak datang.

Spekulasi tentang Kim Jong-un berawal ketika dia tidak menghadiri perayaan ulang tahun mantan presiden Kim Il-sung.
Tak pelak, ketidakhadiran Kim Jong-un memicu spekulasi dan rumor yang tak mudah dibuktikan.

Kim Jong-un terakhir kali muncul di media pemerintah pada 12 April untuk “menginspeksi pesawat tempur” dalam selebaran yang tidak bertanggal.

Seperti biasa, gambar-gambar itu menggambarkan ia dalam keadaan santai dan nyaman.

Dia memimpin pertemuan politik sehari sebelumnya, menurut sumber media pemerintah. Tapi dia belum lagi terlihat sejak itu.

Klaim tentang kesehatan Kim Jong-un pertama kali muncul dalam sebuah laporan di sebuah laman daring yang dijalankan oleh para pembelot Korea Utara awal bulan ini.

Sebuah sumber anonim mengatakan kepada Daily NK bahwa menurut informasi yang mereka dapatkan, Kim Jong-un berjuang dengan masalah kardiovaskular sejak Agustus lalu “tetapi kondisinya memburuk setelah kunjungan berulang ke Gunung Paektu”.

Sejumlah kantor berita internasional pun mengangkat spekulasi itu dengan mengutip sumber tunggal.

Kantor-kantor berita kemudian mulai mencari tahu tentang klaim itu, dan hanya itu yang mereka miliki, sampai ada laporan bahwa agen-agen intelijen di Korea Selatan dan AS sedang memantau klaim itu.

Di AS, berita yang lebih sensasional muncul, yakni pemimpin Korea Utara itu sedang dalam kondisi kritis setelah operasi jantung.

Namun, pemerintah Korea Selatan, dan sumber-sumber di intelijen China – seperti dilaporkan kantor berita Reuters – mengatakan berita itu tidak benar.(Reuters/red)

Categorised in: ,

Comment